Aku (Lelah)



Dear you, My Sunshine…

Ingin rasanya bersandar di pundakmu. Cukup dengan seperti itu saja. Aku lelah. Aku lelah karena selalu dianggap tidak berguna di sini, sebuah tempat yang mereka sebut rumah. Bukan, bagiku ini bukan rumah. Hanya sebuah tempat persinggahan.

Andai saja kamu tahu, alas an kenapa aku selalu bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Terlalu banyak tangisan jika aku tetap di sini. Sekeras apapun aku berusaha, tak pernah ada kata benar. Di sini yang paling dihargai adalah materi. Ketika aku tak dapat menghasilkan materi dalam jumlah banyak, maka aku tak akan pernah mendapat penghargaan. Tidak peduli walau sebenarnya aku mempunyai banyak prestasi.
Sejak kecil, ketika para orang tua bangga atas prestasi anaknya, karena kecerdasan yag dimiliki, orang tuaku tidak. Masa kanak-kanak yang seharusnya dihabiskan dengan dihiasi permainan bersama teman sebaya, aku sebaliknya. Karena ‘dia’ telah lebih dulu melayangkan benda-benda di sekitar pada tubuh mungilku. Tidak heran jika sekarang aku tidak memiliki kenangan masa kecil yang indah, bersama dengan teman sebaya.

Kata mereka, tetangga dan saudara yang tahu bagaimana aku tumbuh, sejak kecil sampai sekarang aku tidak pernah bahagia. jalan hidupku tidak mudah. Mereka pun dapat melihat bagaimana perlakuan ibuku yang berbeda pada aku dan adik. Ternyata bukan perasaanku, tapi orang lain pun dapat melihat dengan jelas.
Walaupun begitu, berbagai perjalanan yang telah kulakukan mempunyai arti tersendiri. Di setiap tempat yang pernah kusinggahi telah mengukir kenangan indah di hati. Aku mungkin tidak pernah mendapatkan kebahagiaan itu di sini. Tapi, percayalah, aku tahu bagaimana rasanya bahagia. bahagia yang tidak dapat diukur dengan materi atau semacamnya.

Dan, bertemu dengan kamu adalah kebahagiaan terbesar di hidupku. Hope you always by my side.

Diyah D.
160814

Comments